BUAH SIMALAKAMA KOMUNIKASI TEKS

Dalam edisi kali ini, saya tergelitik untuk menulis sebuah artikel yang mungkin sangat berbeda sekali tipikal isinya dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Sebenarnya hal ini dipicu dengan semakin meriahnya perkembangan teknologi smartphone yang kemudian memunculkan berbagai macam aplikasi text messaging bak jamur di musim hujan.

Diawali dengan revolusi komunikasi dengan munculnya SMS di sekitar tahun 1999 (saya kebetulan termasuk pengguna pertama dari teknologi SMS) Kemudian revolusi berlanjut kepada maraknya BBM dan kini segerombolan aplikasi semacam WeChat, Line, KakaoTalk, WhatsApp, dan sebagainya.

Terus terang perkembangan ini menggembirakan karena komunikasi menjadi jauh lebih mudah dan murah. Jarak menjadi tidak masalah lagi. Logikanya, harusnya teknologi ini semakin mendekatkan kita dengan sahabat, keluarga, dan komunitas kita. Bahkan, seharusnya, melayani jiwa-jiwa dan menyebarkan berita baik Kristus dipermudah dengan adanya teknologi ini.

Namun yang menarik, akhir-akhir ini baik di perusahaan, gereja, maupun kehidupan pribadi, saya menjumpai bahwa text messaging (berkomunikasi via text), terutama komunikasi via SMS, BBM, dan aplikasi senada, ternyata menimbulkan banyak sekali masalah komunikasi yang mengakibatkan konflik, masalah tambahan, dan rusaknya hubungan.

Ternyata, kita masih tidak sadar bahwa berkomunikasi via teks walau tampaknya mudah, cepat, dan menyenangkan, namun pada praktiknya menyimpan ancaman tertentu. Saya berkali-kali menjumpai suami-istri yang bertengkar karena salah paham dengan tulisan yang dikirimkan. Atau saya bahkan berkali-kali menjumpai kasus pekerjaan yang terbengkalai atau salah pengerjaan akibat intruksi yang disalahartikan saat terkirim melalui tulisan.

Ini tampak sepele, tetapi sebenarnya efeknya sangat besar. Bahkan cukup besar untuk menjadi alasan kenapa saya tiba-tiba ingin menuliskan artikel ini.

Di dalam training Communication Skill, saya berkali-kali menjelaskan bahwa komunikasi dengan tulisan, sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi di level PALING RENDAH. Mengapa demikian?

3 BAHAYA KOMUNIKASI TEKS

1. Tulisan tidak memiliki nada. Perbedaan jelas antara tulisan dengan percakapan langsung adalah pada intonasi nada. Padahal, riset membuktikan bahwa 38% pesan dikomunikasikan melalui intonasi nada. Sedangkan 55% melalui gerak tubuh dan mimik wajah. Artinya, ketika Anda mengirimkan pesan tertulis, sesungguhnya Anda baru saja mengeliminasi 93% faktor penyampai pesan dan tulisan Anda hanyalah membawa sekitar 7-10% isi pesan.

Dan yang lebih berbahaya, saat seseorang membaca pesan tertulis Anda, ia meng’intonasi’kan sendiri bunyi tulisan Anda. Artinya, Anda menyerahkan control persepsi sepenuhnya kepada si pembaca. Itu sebabnya seringkali kita mengirim pesan dengan niat baik-baik, tetapi bisa ditangkap buruk karena pesan Anda “di’nada’kan” dengan intonasi buruk. Kemudian inilah yang mengakibatkan kesalahpahaman.

2. Tulisan sulit untuk berekspresi. Kelemahan lain dari komunikasi tulisan adalah, Anda tak pernah bisa melihat bagaimana ekspresi seseorang ketika menyampaikan pesan itu. Bisa saja, ia menutupi ketidaksetujuannya dengan tanda icon smile. Itu sebabnya, banyak sekali pasangan yang konflik melalui text messaging, berakhir dengan konflik yang makin besar dan tak terselesaikan, karena pada saat satu pihak berniat meminta maaf, namun sulit terekspresi dari tulisannya, kemudian ditangkap berbeda dengan pasangannya.

3.  Tulisan terbatas ruang deskripsinya. Butuh skill khusus untuk bisa menjelaskan sesuatu melalui tulisan. Itu sebabnya seringkali apa yang kita tulis sudah kita anggap jelas, namun di pihak penerima ia menganggap tulisan Anda tidak jelas. Semakin rumit masalah dan persoalannya, maka seharusnya semakin Anda menghindari untuk berkomunikasi melalui tulisan.

 

Artikel ini mungkin sederhana, tetapi jika Anda mampu menggunakan text messaging dengan lebih cerdas, sebenarnya Anda akan mengurangi banyak sekali potensi konflik di dalam organisasi, pelayanan, maupun dalam hubungan personal Anda dengan orang lain.

Kuncinya, jangan gunakan text messaging untuk membahas sesuatu yang penting, rumit, dan mendalam. Dan ingatlah selalu bahwa setiap orang mendeskripsikan dan mengintepretasikan tulisan secara berbeda, jangan berpikir semua orang seperti Anda. Bagi sebagian orang, menulis pendek itu biasa, namun bagi sebagian orang lain, itu dianggap ketus dan tidak menghargai.

Maka, lebih bijaksanalah dalam memanfaatkan teknologi text messaging. Jangan sampai membuat Anda malas untuk bertegur sapa melalui percakapan langsung atau bertatap muka. Bagaimanapun juga, ada komunikasi emosional yang hanya bisa dicapai melalui percakapan langsung dan tatap muka, yang tak pernah bisa tergantikan dengan tulisan.

“Kadangkala satu tepukan hangat di pundak  jauh lebih terasa daripada 1000 tulisan pujian ” – Josua Iwan Wahyudi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s